Selasa, 27 April 2010

KASUS PELECEHAN SEKSUAL ANAND KHRISNA

terbongkarnya kasus pelecehan seksual seorang tokoh lintas agama anand kreshna dengan korban seorang wanita pengikut ajarannya merupakan bola salju fenomena ajaran sesat yang menyesatkan umat beragama. Dalam sebuah kesaksian bebarapa orang yang pernah menjadi korban pelecehan seksual anand kreshna, mereka mengaku seperti terhipnotis. Ketika sang guru (anand Kreshna) meminta salah seorang muridnya untuk berhenti kuliah, sang murid ingin menolak namun seperti tak kuasa menolak ajakannya. Salah satu ajaran Anand yang menyesatkan adalah "bila seseorang ingin mengetahui dan merasakan bagaimana hubungan dirinya dengan tuhannya maka kalau ia perempuan haruslah melakukan hubungan seksual dengan gurunya sedang kalau laki laki maka ia harus melakukan hibungan seksual dengan wanita yang ditunjuk oleh gurunya. (berita kota selasa 16 Pebruari 2010)
dalam kasus anand, selain menyorot masalah ajaran sesat yang masih berkembang di negeri ini juga yang tak kalah penting adalah masalah huubungan antara guru dan murid atau dosen dan mahasiswi.
dalam suatu berita tv swasta, perna terjadi hubungan asusila antara guru dengan seorang wanita muridnya sendiri yang duduk di bangku SLTA dan terekam dalam vidio ponsel. Dan masih banyak lagi kasus hubungan bejat antara guru dengan anak didiknya.

Selain masalah asusila yang berkembang di masyarakat, masalah kekerasan yang dilakukan oknum guru atas muridnya juga sering terjadi seperi kasus seorang guru agama menyundut puntung rokok kepada muridnya yang tidak melakukan shalat dengan alasan praktek percobaan neraka sebelum di bakar api neraka yang sesungguhnya.

Kasus pelecehan seksual dan kekerasan dalam dunia pendidikan seharusnya menjadi perhatian khusus terutama para pemerhati dunia pendidikan. Mengapa lembaga yang berwibawa, suci, idealis dan menghormati nilai moral dan etika justru dikotori oleh oknum guru bejad, apakah pimpinan lembaga tersebut seperti, kepala sekolah tidak pernah memperhatikan bagaimana prilaku guru bawahannya, apakah tidak pernah dibuat peraturan mengenai standar hubungan antara guru dengan murid, standar penerapan hukuman yang pantas dikenakan kepada sang murid.
Dalam ajaran islam seorang guru laki laki harus mengajar kepada murid laki laki, dan murid perempuan dididik oleh guru perempuan pula, bilamana tidak ada dan terpaksa, seorang guru laki laki dilarang mengajar tanpa didampingi oleh mahromnya seperti; ayah, ibu, adik atau kakak kandungnya sendiri.
Hubungan guru dengan murid sama dengan hubungan dokter dengan pasiennya keduanya harus saling menjaga agar tidak terjadi hal hal yang membawa fitnah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan dahulu di jaman bani israil ada seorang putri raja yang sudah berbulan bulan lamanya sakit tidak kunjung sembuh, ia hanya terbaring di tempat tidur dengan separuh nyawa atau koma,sementara di tempat lain tersebutlah seorang hamba Allah yang alim ahli ibadah bernama BARSESHO. Suatu saat syetan menggoda perasaan barsesho, ada orang yang sakit lalu syetan membisikan kepada orang yang sakit itu agar minta air putih kepada barsheso. Tak lama kemudian setelah minum air putih yang dibacakan lafald doa maka kontan seketika sembuh. Kejadian ini menjadi kabar yang menghebohkan seperti fenomena ponari dengan batu ajaibny. Dalam waktu yang tidak lama sampailah kabar kehebatan barshesho ke telinga sang raja yang memiliki putri sudah berbulan bulan lamanya terbaring di ranjang tempat tidurnya. Maka tanpa menunggu rembulan emas tenggelam di cakrawala raja yang begitu sayang pada sang putri satu semata wayang langsung berangkat ke padepokan tempat barsesho ruku' dan sujud. Ternyata benar baru saja di bacakan do'a sebentar sudah sembuh dan sadar. Namun anehnya setelah kembali pulang ke istana sang putri kembali sakit seperti semula padahal itu semua tipuan syetan, sesungguhnya panyakit itu adalah titipan syetan dimana setelah sang putri dibacakan do'a seolah-olah sembuh karena do'anya barsesho padahal memang syetan sengaja mengambil penyakit itu sementara dan setelah sampai pulang keistana syetan kembali menitipkan penyakit itu kembali ke tubuh putri itu. Lalu apa tujuan syetan menggoda sang raja menanamkan penyakit di tubuh sang putri. Begini ceritanya : sang putri lalu kembali ke padepokan barshesho dan ternyata syetan membisikan nasehat kepada barsheso agar putri raja itu mau tinggal di padepokannya supaya dapat disembuhkan secara total. Bisikan syetan ini ternyata diterima oleh akal sehat barsheso maka tinggallah sang putri di padepokan itu. Hari demi hari kondisi sang putri semakin menampakan kemajuan dan saatnya bagi syetan memulai jurus rayuan syetan yang pernah dipelajarinya bertahun tahun di fakultas ilmu santet dan ilmu pelet (FISIP) dari guru besarnya mak lampir di banten. Pertama syetan membisik di hati barsheso betapa kasihannya sang putri berbulan bulan penyakitnya tidak kunjung sembuh. Selanjutnya syetan menasehati barsheso supaya sering menengok keadaan pasiennya agar dapat terhibur sehingga dapat membantu proses penyembuhan. Kemudian dibisikan lagi supaya sering ngobrol dan bercerita dan akhirnya dari sering bercakap cakap di teras padepokan lama kelamaan sering bercerita di dalam padepokan lalu kemudian di sanalah musibah moral dimulai. Sang putri akhirnya hamil dan syetan tidak lagi menjadi juru nasehat sang alim barsheso tapi sebaliknya ia menakut nakuti dengan segala bayangan kekhawatiran bila berita aib ini terbongkar di tengah masyarakat. Saat itu syetan membisikan kepada barsheso supaya putri itu dibunuh saja untuk menghilangkan jejak. Dalam keadaan cemas, panik, dan ketakutan maka dibunuhlah putri yang malang tersebut dan dikuburkannya di bawah tempat tidur barsheso.
Sudah sebulan lebih sang raja meninggalkan putrinya di padepokan barsheso kini saatnya ia ingin menjenguk keadaan putrinya.
Sesampai di dipadepokan raja tanyakan semuanya, kepada karang kepada ombak, kepada matahari, tetapi semua diam tetapi semua bisu tinggallah barsesho sendiri terpaku menatap langit. Dia pura pura sedih dia katakan kalau putrinya telah meninggal dunia tak terselamatkan lagi,
Betapa kagetnya sang raja, bagai mendengar petasan saat ngebesan ... Eh maaf maksud saya bagai mendengar petir di siang bolong
kemudian barseso menunjukan kuburan palsunya.
Sang raja hanya bisa nagis bombay, ada perasaan menyesal telah menitipkan putrinya pada barseso, namun apa daya, semakin dia menyesal semakin teriris rasanya. Masih terbayang saat putri tersenyum di kala sehat begitu cantik sejuk seperti alisa subandono."oh.. Anakku.. Maafkan papamu nak.. Papa memang tidak berguna, papa sudah menyianyiakanmu..apalah arti hidup ini tanpa senyumanmu, tanpa canda dan sifat manjamu. Nak.."
Sang raja akhirnya pulang dengan tangan kosong. Hatinya tercabik cabik, penuh sesal dan rasa bersalah yang termaafkan.
Ditengah perjalanan tiba tiba sang raja bertemu seseorang separuh baya yang mengaku melihat putrinya meninggal tak wajar. Sebab sebelum menonggal nampak perutnya besar dan nampak sehat.
Sang raja menjadi tambah heran, "apa yang dimaksud dengan besar perut.? Apa dia hamil.? Dan siapa yang berbuat itu.? " segala tanda tanya semakin membuat penasaran. Maka tanpa pikir lama sang raja balik arah kembali ke padepokan.
Tanpa salam dan tanpa menemui barseso raja memerintahkan pengawalnya untuk membongkar kuburan palsu yang tadi ditunjukan barseso. Maka terbongkarlah tipu muslihat barseso. Pengawal langsung menangkap barseso dan setelah diintrogasi akhirnya mengakulah barseso.
Betapa marahnya sang raja hingga tanpa ampun barseso di gantung di tiang salib dengan wajah dan tubuh babak belur.
Dalam keadaan sekarat di atas tiang salib. Syetan datang menawarkan jasa.
"hai barseso maukah kamu saya lepaskan kamu dari tiang itu sampai kamu selamat." barseso cuma mangut manggut.
"kalau kamu mau aku selamatkanmu maka sembahlah aku, cukup kamu anggukan kepala bila aku bertanya padamu",
lalu iblis bertanya "apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah tuhanmu ?" barseso yang saat itu terdesak akhirnya menganggukan kepalanya, maka jadilah ia seorang yang murtad. Dan tertawalah iblis sebagai tanda kemenangan atas usahanya menyesatkan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar